Sabda Aksara

Menenun Asmara

Best Night Ever!!!

Seminggu kebelakang saya nonton film yang judulnya STUCK BETWEEN STATIONS, filmnya surprisingly luar biasa. Romansa yang terjadi di filmnya mengingatkan saya dengan apa yang pernah saya tonton dalam Before Sunrise atau Before Sunset, yang anehnya waktu saya nonton filmnya dulu perasaanya tidak sesuka ketika menonton Stuck Between Stations ini. Suasana malam yang selidik punya selidik ternyata lokasinya di Minneapolis ini begitu “sweet”. Lampu-lampu warna hijau-ungu atau kuningnya begitu eksotis, terasa absurd mengiringi percakapan PDKT antara 2 tokoh utamanya. Mereka adalah sepasang teman lama dulu ketika SMA, yang satu popular dan yang satu bukan siapa-siapa, keduanya kini bertemu dalam suatu malam, sebagai strangers yang “ajaib”. Film ini sangat-sangat masuk ke dalam 3 besar film romantis terbaik buat saya, sejajar dengan Last Chance Harvey dan Nick & Norah Infinite Playlist.

Akhirnya, saya menemukan kriteria untuk bisa “suka” dengan film romantis Hollywood:

-Strangers Luck, doing an awesome activity with unpredictable chemistry but in the end always keeping them to stick together
-Walks through the night/day
-i prefer holding hands/arms, a little kiss still okay…
-Mesmerizing lights, city lights
-Chilled yet quirky soundtracks



When i seek romances through film:
1.Stuck Between Stations
2.Nick & Norah Infinite Playlist
3.In The Mood For Love
4.Last Chance Harvey
5.Ira & Abby

it’s enough….

Katmandu

Bagaimana agar tetap sepenuh hati, dalam lingkup yang serba modern seperti sekarang ini. Menemukan pengorbanan dibalik setiap sesuatu yang serba mudah. Apakah menyulitkan diri bisa menjadi solusi, ketika belajar untuk memandang hidup lebih sederhana. Merealisasikan bahagia adalah tujuan bukan sebagai perjalanan.

Melanjutkan…

Terlanjur melanjutkan tanpa menetapkan visi yang kuat di awal. Ada keyakinan kalau pencapaian tujuan otomatis tercapai ketika misi sudah mulai dilaksanakan. Namun seiring semua berjalan, kekuatan semangat efektifitasnya kian melunak. Benar kalo ada yang bilang, tidak memiliki rencana adalah rencana membuat gagal. Waktu, karya, bagaimana, dimana dan siapa. Apa itu cukup mewakili komponen utama dari sebuah rencana?

Tick Tock….

All people are afraid
No one know what they’re doing
Everything is getting worse
When money seems worthless
They don’t mind dressing improper
The system is rigid
Incompetent…
Sad and dying…
Things don’t last
Feelings not survived
No one care
All just dissapointment
Comes in remorse
until …
except …
repeat, goes on and on.

The Sense of An Ending


“what is History?”

First thing that attracted me into this book was its title, there’s something intriguing about it, “The Sense of An ending”. Almost of all artworks whether it comes in various forms, it supposed to have an ending, also a beginning, of course. My expectation was this book would tell a story which has a different class of storytelling leading to what supposed an ending should be. Comes in a reasonably short pages, the story brilliantly captures near a whole lifetime of its protagonist, Tony Webster. The story tells a triangle relationship between him and his two college friends since also “lover” Veronica and Adrian. What’s make the conflict is the story takes place when Tony, at his sixties, receive an unexpected bequest from a woman who he’d met only once, 40 years earlier, Veronica’s mom.The bequest not only contain £500, but also Adrian personal journal. Interesting question, why? What’s actually happened between the three during the whole lifetime? The story comes in linear as Tony’s life in the story begin in highschool until he reached 60, and those “Pandora’s box”(unexpected bequest) comes. When you read it, its force you to think what is memory, and the missed opportunity as life’s comes along. What is consequences,what is growing old, what is unknown? There are some terrible revelations contained in the latter pages of this book, yet Barnes makes the reader work hard to piece them together. Discover if it is true what our mind remembers does somehow is what actually happened. He doesn’t just hand you to the answers. As Tony quotes in this novel “What you end up remembering isn’t always the same as what you have witnessed.” How true is that, in melancholic way to portray the sense of life having passed one by.The dilemma of accepting responsibility for one’s action, whether it’s fiction or just reflection from the past.It is for me, close to describe where in a movie, Korean movie, delivered from an internationally acclaimed writer and director, Park Chan Wook’s Old Boy.What is unknown and unspoken in the past, comes to bite in remorse that agonisingly bites after most of a lifetime.The agony of lost time evokes the sense of a life whose meaning or meaninglessness which only death provides.

Liberalism

“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.(QS. 7:30)”

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa manusia itu terbagi atas dua golongan. Golongan pertama yaitu golongan yang telah diberi petunjuk oleh Allah swt. di dunia ini dan diberi taufik mengerjakan salat, menyembah-Nya dengan ikhlas dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Sedang golongan kedua ialah golongan yang telah sesat karena mengikuti ajakan setan dan meninggalkan perintah Allah Penciptanya. Setan itulah yang dijadikan pelindungnya, bukan Allah swt. Anehnya mereka sudah sesat menempuh jalan yang dilarang oleh Allah swt. mengerjakan perbuatan yang tidak diridai-Nya, tetapi masih menyangka bahwa mereka memperoleh petunjuk.

Dear Friends,

Indonesia is the biggest Moslems country in the world, but lately i found that doesn’t guaranteed it’s strong. As a matter of fact it’s tends to reflect how weak it could become. The issued of liberalism Islam’s raised by some organizations in this country is a real threat to jeopardize these entity amongst youth Moslems in Indonesia. But some of my friends still fall asleep. Worse, they dreamed as they’re seeing a smile on a happy face of evil.

As most of us already know, recently a young Canadians women who claimed as faithful Moslems but openly declared as a lesbians, wants to discuss about her book, the so-called “ways of how to reconcile faith and freedom in a world seething with repressive dogmas”. Unfortunately, she refers that “repressive dogmas” as in Islam greatest marvel of Quran and its holy prophet of Muhammad SAW. How come there’s a sane, intellectual woman called herself as Moslems, loves Allah SWT faithfully, while she’s malign her religion at the same time. Yet, she’s proud and feel inspired of it. Worse, a lot of young Moslems here that inspire and embrace her.

Because of her tendencies to bridging a midpoint between ijtihad and support of gay rights, this has angered some Moslems especially in Indonesia who strongly believe homosexuality is a sin. It is not strange when Manji’s massage somehow resonates with liberal groups here JIL, who prefer not to coarse a literal interpretation of the Koran and a state based on Islamic laws.

However, in a far understanding a religion, we should not pretentious about adding the word such liberals.No one could be deemed to have the necessary qualifications for independent reasoning in religious law, and that all future activity would have to be confined to the explanation, application, and, at the most, interpretation of the doctrine as it had been laid down once and for all.

Cahaya dalam malam, Jakarta’s Lovely Man

Baru aja nonton film LOVELY MAN, film yang oleh majalah TEMPO di kategorikan sebagai film Indonesia terbaik di tahun 2011, yes… mengalahkan Sang Penari dan The Raid. Saya senang sekali dengan penggambaran ketika Cahaya(Raihaanun) pertama kali menginjakan kaki di Jakarta. Bagaimana ia menangkap, berekspektasi akan “Indahnya” Jakarta lewat ramainya stasiun, musholla sempit, lampu-lampu gedung, mobil-mobil lalulalang, trotoar yang bersih kemudian dari sela-sela pembatas jalan ada yang mengais nasi sisa . Suatu penggambaran yang jujur, indah, dan prestisius mengingat sutradaranya ialah orang Indonesia tulen, Teddy Soeriaatmadja (Banyu Biru, Ruang, Ruma Maida), kita harus sangat menghargai film “penting” ini.

Sinematografi filmnya sangat indah. Sempit dengan komposisi yang jelas, sesekali ada unsur “brilliant”nya. Refleksi pasar malam dengan kerlap-kerlip di genangan air yang becek, stand out and brilliant!!! Tone warna Jakarta di malam hari yang otentik , karena memang nyaris seperti itu yang saya lihat ketika jalan di daerah Sudirman, atau ketika mau naik TransJakarta di kala malam. Skoring filmnya luar biasa puitis melalui permainan piano yang tulus namun menyedihkan. Perpaduan yang lagi-lagi luarbiasa untuk sebuah film Indonesia, nyaris belum pernah ada sebelumnya.

Dari segi akting, Donny Damara mungkin terlalu biasa aja untuk seorang masculine yang memerankan banci, namun lawan mainya Raihaanun sudah lebih dari cukup untuk menghipnotis saya. Ini mungkin terlalu subjektif, tapi menyaksikan gadis lugu, berjilbab, nangis, secara natural dan sesuai konteks, ampun…air mata menetes untukmu Raihaanun :) . Secara cerita, film ini hebat membungkus isu-isu kontroversial untuk tetap bersahabat, karena disajikan secara melodramatis murni. Secara kasat mata sebenernya ada isu2 “panas” di filmnya seputar transgender, jilbab, dan homoseksualitas, namun ketika menontonya ini terasa murni film 2 manusia yang sehubungan darah, ingin mengungkapkan perasaan dan bersahabat dalam kondisi yang tidak bersahabat, di Jakarta. Problem identitas ketidakmampuan manusia untuk membuka diri, bahkan dengan kerabat terdekat mereka sendiri, berkaitan dengan soal-soal di sekitar penerimaan terhadap diri sendiri. Ini contoh film yang bagus, akting bagus, sinematografi bagus, dan dialog bagus dari Indonesia. Dan juga ini adalah salah satu film Indonesia menurut saya dengan penyampaian ending yang “penting” untuk di ingat.

Kesan pertama begitu menggoda

Hari ini dimulai dengan menyisakan dendam dari hari sebelumnya. Dendam untuk bisa mendapatkan tiket The Avengers di IMAX. Image MAXimum.

SEHARI SEBELUMNYA

Saya bisa datang ke Gandaria menjelang jam 4. Berharap itu merupakan waktu yang cukup awal supaya kebagian tiket pertunjukan malam jam 9. Sesampai saya di XXI Gandaria, “Apa ini…. ngantri sampe setengah hall utama ” (yang menurut saya adalah hall utama untuk XXI terbesar). Keraguan yang sudah lama tidak pernah saya rasakan itu datang, ga dapat tiket. Keraguan itu kemudian terbukti benar, pertunjukan di Teater IMAX untuk hari itu sudah FULL.

Akhirnya menonton The Avengers di IMAX hari itu tidak jadi, saya lanjut perjalanan pulang. Menembus arteri Pondok Indah menjelang Maghrib yang “aduhai” harus sabarnya, macet!. Sampai di kost-an, setelah shalat, mandi, shalat dan lain-lain, saya browsing di internet dan baru tau kalau  The Avengers ini di sutradarai oleh orang yang sebelumnya menulis Toy Story, Speed dan The Cabin in the woods. Sontak keinginan menonton The Avengers tak terbendung, mau IMAX, ataupun 3D, bahkan 2D sekalianpun saya ikhlas, yang penting nonton.

Mampir ke kost-an beberapa teman sekitar untuk mengajak nonton ,kamipun menuju Citos untuk nonton The Avengers. Rencananya menonton yang jam 9. Sampai di 21 Citos, “Tuh kan…rame, jangan-jangan habis…!?” Dan ternyata betul, tiket untuk SELURUH pertunjukan malam itu, ludes. Malam itu berakhir dengan makan di Imperial Kitchen/Dim Sum (1st time nih nyobain ini). Ternyata dim sum ceker atau “Fong Zau” nyabisa menghibur dengan rasanya yang enak, cekenya besar dan harganya sangat terjangkau (tetep!) . Akan datang lagi ke Imperial demi cekernya :D .

HARI INI

Hari ini saya “Cheating Faith” yang harusnya di kantor tapi, upss..

Berniat dari membeli  tiket untuk jam pertunjukan malam, saya meluncur ketika istirahat makan siang dari kantor yang berletak di daerah TB. Simatupang. Sampai di XXI Gandaria, “Apa ini….Apa ini… ngantri udah ngumpul kaya chiki!!!”. Untungnya saya bawa novel, jadi pas ngantri sambil baca novel, tipis sih novelnya cuma 150 halaman :) . Sampai bertemu mba-mba penjual tiket, ternyata pertunjukan IMAX untuk yang jam 15:30, 18:15, 21:00 nyaris penuh, tempat duduk tinggal “remah-remah” di depan. Untuk jam 12:45, masih ada kursi-kursi “Lucky Bastard” di bagian atas yang tersisa. “Hell with office hour… i take that seat”. Row D seat 25 IMAX, The Avengers. Hoorahh :D .

Kesan pertama waktu masuk teater IMAX itu “hmm..layarnya tidak sesuai ekspektasi tapi hey, bentuk teaternya bagus “. Waktu saya masuk layar sedang memutar trailer The Dark Knight Rises. Segera setelah saya sampai di tempat duduk, saya menyadari kemudian resolusi ketajaman gambarnya memang luar biasa. Setelah itu ada instruksi untuk mengenakan kacamata IMAX 3d karena trailer selanjutnya akan berlangsung dalam format 3D. Kacamatanya oke, kacanya besar, kaya alat buat snorkling.  Trailer selanjutnya adalah The Amazing Spiderman, dimana trailernya terasa 180 derajat berbeda akibat faktor “IMAX3D” ini. Adegan Spiderman swingnya terasa kaya naik roller coaster, sementara DOF adegan dialog di  filmnya jadi bikin mangap. Ada syndrome “wooo,, wezzz,, woooow” waktu menyaksikan trailer versi IMAX 3D ini. Saya semakin antusias jika memang filmnya  di IMAX akan memberikan pengalaman seperti ini. Trailer selanjutnya yakni MIB3, ada adegan ketika POV orang jatuh menuju tanah, itu serasa kaya naik roller coaster dari ketinggian dengan vertikal kaya mau nabrak beneran. Banyak yang bersorak ketika adegan itu.

Jeng..jeng…filmnya dimulai, The Avengers nya mulai….

Namun secara keseluruhan filmnya buat saya “ngantuk”.

Entah kenapa filmnya tidak se-exciting dibanding 2 trailer pembukanya.

Saya sudah siap-siap ketika Iron Man membombardir portal pasukan Chitaur (as seen on the trailer) atau ketika HULK men-”smash” lele terbang Chitaur yang muncul tiba-tiba dari gedung, namun excitementnya nihil.

Yah itulah mungkin, keinginanya terlalu mengebu-gebu, sesudah dapet… gregetnya ilang.

PS: Standard layar IMAX Theatre itu 22 x 16, sementara IMAX Gandaria ukuranya 20 x 11. So..let’s hope there’s more IMAX theatre to come :D .

“IMAX 3D delivers the greatest brightness, clarity and depth creating unmatched experiences and images that leap off the screen and into your lap”

Setengah Hari Minggu

Apa sih akhir minggu yang berarti itu? ketika ada agenda liburan ke pantai, atau bisa mengunjungi keluarga kemudian jalan-jalan, makan siang, nonton dilanjutkan belanja. Akhir minggu bisa jadi berarti ketika kita menyalurkan hobi yang kita punya, membaca novel, hunting foto, atau sekedar marathon film. Beberapa mungkin ada yang suka mengahabiskan akhir minggu dengan belajar. Akhir minggu bisa juga berarti ketika kita menghabiskanya dengan berolahraga, berenang atau janjian futsal. Lama-lama mencari ide untuk menghabiskan akhir minggu menjadi usaha yang cukup menantang dan kadang-kadang menggelisahkan, terlebih buat beberapa yang dalam hidupnya cukup “desperate” mencari seorang teman akhir minggu.

Minggu ini, mengawali bulan Mei, film The Avengers serentak tayang di bioskop, beberapa teman melalui Twitter saya lihat mereka seperti sudah menontonya. Guess what, minggu ini adalah minggu pertama dan untuk pertama kalinya ada teater IMAX di 21 untuk Indonesia. Jadi minggu ini buat sebagian yang di Jakarta mungkin akan banyak memilih untuk segera menonton The Avengers di IMAX dalam usaha mereka menghabiskan akhir Minggu.

Akhir minggu ini saya tidak kemana-mana, just enjoy me time. Menentukan agenda me time sangat gampang, karena pada dasarnya harus sesuatu yang simple tapi enjoy. Me time di akhir minggu di mulai dari dini hari, ketika bisa melakukan ibadah yang sangat “sakral”, dilanjutkan melaksanakan Shubuh berjamaah, berdzikir kemudian pulang ke kost-an siap2 untuk berolahraga. Olahraga di hari minggu pagi itu selalu terasa spesial. Sehabis berolah raga, dilanjutkan dengan sarapan. Minggu pagi ini saya sarapan ayam kecap dan sayur tahu tanpa nasi. Sehabis sarapan, sambil menonton acara TV pagi yang seputar ceramah rohani atau acara infotainment. Acara pagi favorit buat saya jujur seringkali stuck di Ceramah Ust. Maulana.

Tak terasa hari dimulai terasa sangat lambat, saya berpikir kenaa saya tidak bisa melakukan rutinitas ini setiap hari, kenapa harus di hari Minggu. Saya melihat jam dan ternyata rutinitas itu semua masih sekitar di bawah jam tujuh. AKhirnya saya melanjutkan dengan menonton DVD, yup…saya berencana menonton ulang The Descendants.Ini film tegar banget!. Scene ketika Shailene Woodley pertama kali bilang ke George Clooney kalau istrinya selingkuh, keren banget emosinya. Selain itu saya selalu ngerasa ga tega ngeliat si anak kecil “scotty”, hiks… yeah ini emang film bagus banget cara penceritaan dan akting2 pemainya. Sayang sekali saya hanya tahan nonton sampai adegan ketika mereka mengkonfrontasi selingkuhan istrinya si George Clooney, dan ketika melihat jam, masih jam 8 kurang. (What? jadi basically sebenernya gua bisa olahraga, sarapan, dan nonton DVD sebagian sebelum berangkat ngantor)

Saya mematikan TV, dan melaksanakan shalat Dhuha… dan keajaiban itu datang, keajaiban yang sangat nikmat, saya ngantuk…..zzzzzz

Saya bangun sekitar jam 11…perut terasa lapar. saya mengambil buah pear di kulkas, dan menikmatinya sendiri sambil nonton episode Glee yang belum ditonton, episode yang judulnya Choke.

Akhirnya terdengar suara Adzan pas ketika selesai menonton Glee, kaki ini akhirnya melangkah ke masjid untuk Dzuhur berjamaah. Setelah selesai Dzuhur, saya kembali ke kosan menyalakan notebook. Liat-liat Twitter dan Facebook kemudian nulis tulisan ini di WordPress.

Hari minggu di akhir minggu awal Mei ini masih setengah.
Sehabis ini saya akan melaksanakan “ritual” yang akhir-akhir ini seperti terasa ada yang kurang kalau tidak dijalankan. Bismillahirrahmanirrahim… yuk mandi dan menuju Istiqlal :D

Have a fun and blessed sunday.

Daydream Nation and Little White Lies

Seminggu terakhir gua sempet nonton 2 film yang ternyata dua-duanya sangat bagus. 2 film yang gua rasa sangat layak untuk direkomendasikan kalau ada yang nanya pengen nonton film yang bagus. Yang pertama ialah Little White Lies (Les Petit Mouchoirs/Pequenas Mentiras sin Importancia), film yang berhasil membuat gua mengingat teman-teman terdekat dan betapa menyenangkanya menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Ketika kita bersama teman memang kita bisa menjadi sesuatu yang baik walaupun sebenarnya sedang mengalami sesuatu yang buruk. Di film ini, masing-masing tokohnya dengan “innocent” berusaha menikmati liburan supaya liburan itu tetap menjadi liburan. Selain itu alur filmnya enak banget waktu ditonton, lama tapi berisi. Little White Lies akan menjadi salah satu film yang sangat personal buat gua, terlalu banyak elemen cerita di film ini yang pernah terjadi menimpa, beberapa mungkin masih sampai sekarang. Where Friendship getting confusing thesedays.  Senang bisa menemukan film ini diantara dvd bajakan Poins Square, dan mungkin sekitar 6 bulan kemudian baru sempet menonton filmnya. Pernah menonton Arisan 2? Little White Lies mungkin versinya “The Mother of Arisan 2″ dengan versi yang lebih manusiawi dan tidak ada unsur-unsur absurd.  Satu peristiwa dari sebuah film yang gua berharap bisa mengalaminya di dunia nyata. Liburan ala Little White Lies dalam kebersamaan kelas atas namun menyimpan intrik-intrik yang menguji ketahanan persahabatan itu sendiri, walaupun tragedi yang sedang tejadi memang sangat menyedihkan. Poster filmnya terlalu bagus, ensemble castnya terlalu luar biasa :D .

Image

Image

Film kedua yang gua tonton minggu ini yaitu filmnya Kat Dennings(:DDDD), semenjak Nick & Norah gua sangat mengagumi cewe yang satu ini, dia sempat main di beberapa film lain, cuma ga semua film se-memesona kaya di Nick & Norah, dan Daydream Nation adalah salah satu filmnya yang lain yang tingkat “Memesona”nya sama, akhirnya.

Image

Filmnya sendiri ‘random’ seputar hal yang gua bisa cerna berawal seperti Twilight berproses kemudian seperti Juno. Seperti Nick & Norah, musik pengiringnya sangat meninggalkan kesan yang bisa membuat kita mencari-cari lagunya. Tone warna dan visualisasi cerita di filmnya sangat “wow”, untuk film yang tidak terduga unsur sinematiknya ini. Quotes-quotes di filmnya, memiliki potensi untuk di buat jadi kutipan2 Tumbler yang memunculkan banyak reblog. Kembali ke faktor awal, faktor gua menonton film ini ialah Kat Dennings, kalau bintangnya jadi Ellen Page, Emma Stone atau Carey Mulligan, belum tentu gua nonton dan gua suka. Sepertinya gua akan menonton film ini berulang-ulang ke depanya, satu hal yang sevisi antara filmakernya dan gua adalah, “Eksploitasi Kat Denningsnya dapet”. Gua rasa tone warnya filmnya di sesuaikan dengan bibir Kat Dennings, bukan alur dan mood film.  Ibarat Zooey Deschanel di 500 Days of Summer atau Audrey Hepburn di Breakfast at Tiffany’s, ini film dimana aktris utamanya bisa dibilang “perfect”.

Image

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 279 other followers